Senin, 04 Mei 2009

instruktur

APAKAH KITA(GADIK)

BERTIPE PEMBUNUH KARAKTER SISWA?

Seperti yang telah kita sepakati bersama, bahwa tenaga pendidik (instruktur) dan beserta tenaga kependidikan yang berada dalam lembaga pendidikan adalah manusia berkualitas serta profesional yang akan membawa siswa mendapatkan perubahan. Karena suatu pendidikan pasti mempunyai tujuan yang akan dicapai yaitu tujuan sesuai bidang sekolahnya atau pendidikannya. Tetapi kita harus ingat, tujuan yang dicapai siswa harus tujuan pendidikan yang bersifat komprehensif artinya tujuan pendidikan yang komplit. Komplit yang dimaksud adalah tercapainya aspek akademis, kepribadian dan tingkat jasmani atau kesamaptaan. Kok bisa ! lha kita kan tentara ! tiga aspek tersebut tidak bisa kita pisahkan.

Apakah tiga aspek tersebut hanya tercapai hanya tujuan saja ? tentu tidak, tujuan pendidikan harus dapat menggambarkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran, yang dapat dinyatakan dalam bentuk tingkah laku, dapat diamati dan dapat diukur.

Kalau mau jujur, penentu tercapainya suatu tujuan pendidikan lebih besar mengarah kepada (yang katanya ) manusia berkualitas, profesional dibidangnya, siapakah itu ? Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lembaga tersebut. Terbukti, sorotan pertama kali apabila ditemukan suatu kegagalan siswa mencapai tujuan pendidikan, Gurunya ! bisa mendidik atau tidak. Memang, mendidik, melatih, membina, dan mengasuh siswa tidak segampang yang digembar-gemborkan. Faktor untuk mencapai keberhasilan dari sisi tenaga pendidik saja cukup banyak dan komplek belum lagi dari faktor lainnya. Tetapi hal itu bukan berarti tidak mungkin, karena ”innamal usri yusro” ( sesungguhnya dibalik kesulitan pasti ada kemudahan ) kalo kita mau berubah. No future no change ! begitulah.

Membaca judul pasti akan tergambarkan hal yang ngeri, kejam banget, sadis dan menakutkan. Jangan mengambil kesimpulan terlalu dini, sebab kalau kita sedikit berimaginasi judul tersebut justru membawa kita akan tersenyum bahkan terawa, dan dengan sedikit rasa malu-malu. Tertawa karena kita dikasih honor mengajar, diperhatikan tingkat kesejahteraan. Dan sedikit rasa malu-malu, karena belum bisa membawa siswa mencapai perubahan pada dirinya sesuai yang diinginkan lembaga pendidikan, hal tersebut karena kita kurang kreatif, inovatif, dan yang paling fatal adalah mentransfer ilmu pengetahuan hanya seadanya atau bahkan hanya karena terpaksa dijadwalkan mengajar. Nah, ternyata lucu kan?

Sifat atau karakter siswa secara umum adalah manusia yang siap menerima ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dari gadik atau instruktur. Sedangkan karakter siswa secara khusus, adalah ingin meneladani gurunya atau istrukturnya, mendapatkan perhatian, ingin mendapatkan kemudahan belajar, mendapatkan nilai yang baik, mendapatkan bimbingan dan pengasuhan yang baik, mendapatkan haknya sebagai siswa, dan keinginan mengaplikasikan ilmunya setelah lulus pendidikan.

Namun demikian, karakter siswa yang penulis beberkan hanya akan menjadikan siswa menjadi bebas dan liar. Tidak !. Siswa tetap wajib mengikuti buku petunjuk siswa di lembaga pendidikan tersebut serta wajib mentaati peraturan siswa atau protap siswa yang ada. Bagaimana dengan para pelatihnya ? hal-hal di bawah ini merupakan gambaran apakah saya sebagai gadik bertipe pembunuh karakter siswa atau tidak, saran penulis apabila menginginkan bukan sebagai tipe pembunuh karakter siswa maka menjauhlah dari hal-hal tersebut, mari kita kupas tuntas :

1. Proses Belajar Mengajar yang Negatif. Proses belajar mengajar merupakan cara guru atau gadik dan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Proses yang terjadi dalam belajar terdapat hukum belajar, pola belajar, komponen pengajaran, faktor yang mempengaruhi belajar, hasil belajar, dan cara belajar yang efektif. Belajar tidak semata-mata hanya memasukkan ilmu pengetahuan saja, melainkan belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku di sini terkait dengan sikap, kebiasaan-kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, sifat emosional, dan pertumbuhan jasmani. Bagaimana bisa dikatakan proses belajar yang negatif ? apabila gadik dalam melaksanakan proses belajar mengajar tidak sesuai dengan cara dan kaidah siswa belajar yang telah disebutkan di atas. Sebagai contoh : datang mengajar sudah terlambat (mengulur-ulur waktu), tidak menyusun satuan pelajaran (lesson plan) atau perencanaan mengajar, tidak mampu menerapkan metode mengajar yang tepat (ingat kata ahli, 80 % keberhasilan pengajaran ditentukan metode mengajar yang baik dan Tepat), tidak tahu apakah pada pertemuan setiap tatap muka dalam belajar mengajar siswa dapat menerima ilmu yang diberikan atau tidak. Acuh tak acuh.

2. Memberikan Doktrin yang Salah. Doktrin secara umum mempunyai pengertian memasukkan aturan-aturan yang diakui benar. Penting sekali seorang gadik memberikan doktrin kepada siswanya tentang aturan dan lain-lain yang diakui kebenarannya yang disesuaikan mata pelajaran yang diberikan. Dengan harapan siswa dapat mengetahui, mengerti dan memahami apa-apa yang terkandung di dalamnya. Jika, pemberian doktrin salah maka celakalah masa depan siswa tentang pemikirannya. Bisa jadi siswa nanti menjadi angkuh, sombong, tidak kenal jati dirinya, acuh dengan korp lain dan lain sebaginya. Perubahan sifat negatif ini memang tidak langsung dapat terlihat, tetapi lima tahun mendatang akan muncul sifat tersebut. Akhirnya prajurit sulit di atur, tidak respek, dan selalu membuat masalah.

3. Tidak Punya Beban Moral Terhadap Siswa. Orang bijak mengatakan ”tampil/maju tanpa persiapan turun tanpa penghormatan”, artinya gadik dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar di kelas maupun di lapangan wajib mengadakan persiapan mengajar. Persiapan secara tertulis dan persiapan yang tidak tertulis. Di sinilah yang membedakan gadik bertipe pembunuh karakter dengan tidak. Jikalau gadik melaksanakan tugas pengajaran dengan biasa-biasa dan seadanya, maka karakter siswa mengadakan penghormatan kepada orang lain, senior atau gadik urung dilaksanakan. Karena gadik atau gurunya tidak pantas diberi penghormatan. Hilanglah karakter siswa selalu melatih memberi penghormatan atau penghargaan kepada orang lain telah mati. Dengan hanya tampil seadanya, gadik pada akhirnya tidak punya beban moral ”apakah siswa dapat menerima pelajaran yang diberikan atau tidak, terserah”.

4. Kerja Hanya Bertendensi Pada Materi /Uang. Kata mbah-mbah kita dulu, jadilah guru karena surga sudah menunggu, ini berarti seorang guru atau gadik pantaslah mendapat balasan surga. Kita pasti sepakat bahwa guru adalah manusia yang ikhlas, nrimo ing pandum (menerima apa adanya), jujur, bersahaja dan kerja keras. Apabila tugas kita sebagai guru hanya bertendensi materi saja, maka sifat-sifat tersebut akan menjauh dari diri kita. Dengan demikian dalam menyampaikan materi tidak sepenuh hati, akhirnya siswa menerima materi juga separoh hati, nah karakter siswa ingin menerima ilmu dengan penuh akhirnya mati. Terbunuh dengan virus tidak ikhlas dan tidak bersyukur atas nikmat Allah.

5. Marah Apabila Mendapatkan Saran dan Kritik. Perubahan dan kemajuan sesungguhnya berangkat dari gelombang kritik ataupun saran yang menimpa diri kita sebagai gadik. Tanpa serangan kritik pastilah kita sebagai gadik selalu dan selalu mendeklarasikan sebagai manusia super yang hebat, kuat dan tidak pernah salah. Padahal jika kita mampu menyikapi dengan indah dan berfikir positif, maka hasilnya akan positif. Pembunuhan karakter di sini terjadi apabila siswa memberikan saran atau mungkin kritik secara langsung maupun tidak kita selalu marah dan tidak terima, akibatnya karakter siswa yang kritis, kreatif dan inovatif akan mati.

6. Tidak Punya Pemikiran visi dan Misi ke Depan. (Yang sering siswa dengar) Dulu.....saya adalah pelatih handal, guru yang disegani, siapa yang tidak kenal dengan saya ? maaf pak guru, ini sudah memasuki milenium ke III. Pandangan gadik harus selalu di up grade , dan membawa siswa berwawasan ke depan. Jangan kata dulu, dulu dan dulu, itu dulu ! Termasuk di dalamnya adalah materi ajar yang mestinya selalu diperbaharui dan disesuaikan dengan zaman yang sudah berubah. Jika gadik masih memberikan ilmu pengetahuan yang sebenarnya sudah tidak seiring dengan situasi sekarang, maka karakter siswa ingin maju dan keinginan punya ilmu baru akan terbunuh. Mati !. Kata siswa, saya tidak mau masuk zamannya bapak dulu.

7. Tidak Dapat Memberikan Tauladan. Selamanya anak didik kita tidak akan pernah menjadi manusia yang dapat diandalkan, baik pengetahuannya, kepribadiannya maupun keterampilan serta jasmaninya. Apabila kita sebagai gadik tidak mampu memberikan contoh atau tauladan bagi siswanya. Ini jelas dan pasti !. bukankah tauladan dari atasan, pimpinan, senior, gadik atau seseorang yang dianggap lebih duluan lahir merupakan perintah yang paling efektif bagi prajurit di bawahnya atau siswa ? artinya di sini guru/instruktur tanpa perintah kepada siswanya, tetapi mampu memberikan tauladan yang baik pasti siswa akan menuruti apa yang akan dilaksanakan dan itu pasti baik. Ingat ! memberikan instruksi atau ajakan melalui kata hati, hasilnya akan beda dengan melalui mulut saja. Yang terjadi adalah karakter siswa keinginan menjadikan pelatih atau guru sebagai figur yang dapat ditauladani menjadi hilang .

Kalau kita sebagai instruktur tidak ingin bertipe pembunuh karakter siswa, hendaklah memenuhi apa saja yang menjadi tuntutan sebagai instruktur yang profesional. Dan pastinya kita sepakat ini semua adalah hanya urusan dunia pasti mudah dilaksanakan, setelah itu laksanakan urusan akhiratnya. InsyaAllah pasti bisa kita laksanakan. Saran dan kritik pembaca mohon dialamatkan ke e mail saya : dan blog saya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar